I tried peeking outside the window
There was nothing
Other than the thick white mist that extends and nothingness
It was truly sight that is out of this world
I guess what awaits us at the end of this ride is the after life
At the very least that's what I'd like to believe
Everyone has a different answer for them selves
No one can remember about their past life
Where should I go?
There are some shadow in here
However, it might change at anytime
As a shadow can appear and disappear without notice
Even though we are standing on the same place
Each of us is bound to a different destination
Everyone here comes and goes so quickly
Not to mention, they all go "poof" whenever they feel like it
I wonder what awaits us at the end of our journey
By the way, this going to be a long ride..
The first time I looked outside the window,
I was overwhelmed by shock
Gradually that shock become curiosity
I began to wonder,
If there's an end to this mist
Gender means nothing when we forsake our earthly body
It's all about the soul,
the purest form of one self
In a place like this you can literally be anything you want to be
Memories are just a part of our earthly bodies
They are meant to be thrown away
When you are reborn
We no longer belong to that world
So we must learn to purge our lingering attachment to it
If you are become too attached,
You will eventually lose yourself
Let nature decide our path
And go with the flow
There was nothing
Other than the thick white mist that extends and nothingness
It was truly sight that is out of this world
I guess what awaits us at the end of this ride is the after life
At the very least that's what I'd like to believe
Everyone has a different answer for them selves
No one can remember about their past life
Where should I go?
There are some shadow in here
However, it might change at anytime
As a shadow can appear and disappear without notice
Even though we are standing on the same place
Each of us is bound to a different destination
Everyone here comes and goes so quickly
Not to mention, they all go "poof" whenever they feel like it
I wonder what awaits us at the end of our journey
By the way, this going to be a long ride..
The first time I looked outside the window,
I was overwhelmed by shock
Gradually that shock become curiosity
I began to wonder,
If there's an end to this mist
Gender means nothing when we forsake our earthly body
It's all about the soul,
the purest form of one self
In a place like this you can literally be anything you want to be
Memories are just a part of our earthly bodies
They are meant to be thrown away
When you are reborn
We no longer belong to that world
So we must learn to purge our lingering attachment to it
If you are become too attached,
You will eventually lose yourself
Let nature decide our path
And go with the flow
Ia terduduk dikursi itu, diam penuh bingung. Ada dua orang duduk di hadapannya. Seorang perempuan berambut cokelat sekitar 25 tahun dan laki-laki berambut cokelat sekitar 30 tahun. Laki-laki ini tampak cukup ramah sedangkan perempuan mencoba menahan takutnya.
"Selamat malam, dengan siapa saya berbicara? " Ucap si Laki-laki. Sementara Ia dengan wajah penuh bingung mengernyitkan dahi.
"Panggil. Saya. Apa. Saja" Ucapnya.
"Sudah cukup, ini takkan berhasil" ucap si perempuan.
"ssshh.. dengan siapa saya berbicara?"ulang Laki-laki itu.
"aku, ya. Ini aku yang berbicara padamu. Ada apa?" Jawab nya. Si perempuan mulai ketakutan sembari memeluk dirinya sendiri.
"apa yang lain?" Tanya si Laki Laki lagi.
"Mana ada! hanya saya seorang apa urusan mu?!" bentaknya.
"Sudah ku bilang hentikan saja. kamu sudah lihat sendiri kan?" Si perempuan mulai menangis.
"Belum cukup" ucap si laki-laki.
"apakah kamu disana?" sambung si laki laki menanyakan hal serupa.
"Ya. Aku disini" jawabnya.
"Bohong! Dia tidak mungkin menjawab seperti itu. kemana dia?" tanya laki-laki itu seraya membentak.
"Kau lupa? Kita hanyalah bagian dari dirinya saja." jawabnya.
"HaHaHa" semua mereka pun akhirnya tertawa.
Dan mereka kembali mengambil alih kendali bergantian.
Tempat itu tidak pernah berubah. Selalu tampak indah ketika mentari mulai tenggelam. Angin berhembus pelan dengan langit yang berhias warna oranye. Dan pemandangan indah itu sepertinya kurang lengkap tanpa kamu. Seperti biasa kamu berdiri di sana. Selalu di tempat yang sama dan waktu yang sama.
Hari demi hari, minggu demi minggu pun berlalu, dan kamu tetap melakukan rutinitas mu itu. Ada hari dimana kamu terlambat datang kesana dan kamu lari tersengal-sengal hanya untuk berdiri disana.
Namun, hari itu tidak seperti biasanya.
"Mentari yang tenggelam itu indah ya""Apalagi disaat sedih..."
Setelah berucap seperti itu, kamu kembali mengawang langit sore. Senyum getir itu terhias di wajah kamu. Kamu tidak sedang baik-baik saja. Aku tahu itu.
"Ingin cerita?"
"Jika kamu menatap senja, apa yang kamu fikirkan?"
"Mencoba mengerti"
"Aku berbeda. Aku hanya berusaha untuk percaya".
Kali ini, lembayung tampak lebih muram. Setelah berkata seperti itu, kamu justru menyuruhku pulang. Dengan senyuman khas kamu, kamu kembali mengawasi langit sore.
"Jangan melakukan yang tidak tidak".
Kamu hanya menoleh dan mengangguk. Hembus angin menyeruak cukup kencang tidak seperti biasanya. Rasanya berat untuk meninggalkan tempat itu. Sesekali aku melihat kebelakang dan kamu masih berdiri di sana.
-----------------------------------------
Aku kembali ketempat ini, tak banyak yang berubah. Hanya tidak ada kamu berdiri disana. Kamu sudah mencoba untuk percaya, dan kini aku juga.
"Berusaha percaya bahwa garis berwarna kuning itu menjadi tanda bahwa kamu tidak akan pernah berdiri ditempat ini lagi dan aku telah gagal menjaga".
- Jakarta, sore hari
Jam malam mulai berdenting
Waktu lewat tengah malam
Sudah saatnya untuk terlelap
Kamu justru mencari kesibukan
Kamu bilang hanya insomnia
Ya lagi lagi kamu berbohong
Kamu selalu melewati malam
Dengan segala kesibukan mu
Sembari menunggu terbit fajar
Melabeli diri dengan nocturnal
Kamu melewati malam mu
Dengan tidur di kala siang
Kamu bilang tidak mengapa
Karna sudah terbiasa seperti itu
Memangnya aku bodoh?
Kamu yang terjaga setiap malam
Takut tidur terlalu nyenyak
Tanpa mampu menyambut esok
Waktu lewat tengah malam
Sudah saatnya untuk terlelap
Kamu justru mencari kesibukan
Kamu bilang hanya insomnia
Ya lagi lagi kamu berbohong
Kamu selalu melewati malam
Dengan segala kesibukan mu
Sembari menunggu terbit fajar
Melabeli diri dengan nocturnal
Kamu melewati malam mu
Dengan tidur di kala siang
Kamu bilang tidak mengapa
Karna sudah terbiasa seperti itu
Memangnya aku bodoh?
Kamu yang terjaga setiap malam
Takut tidur terlalu nyenyak
Tanpa mampu menyambut esok
Kami kembali ke jalan itu.
Tidak seperti biasanya.
Kami bersiap untuk pergi
Dengan janji.
Kami kala itu.
Saling merangkul pundak satu sama lain.
Mengingat momen terakhir kami kala itu.
Sebelum berucap janji.
Jiwa kami saling terikat.
Oleh janji kami.
Memikul beban kami bersama.
Bertarung dan saling menjaga.
Waktu berlalu
Satu persatu diantara kami mulai gugur
Janji itu rasanya semakin berat.
Janji untuk saling menjaga.
Sisa dari kami mulai pergi
Mencoba melupakan segala hal
Segala kehilangan kami
Dan segala janji kami
Rangkulan itu memang semakin renggang
Ingatan itu memang semakin kabur
Namun janji yang pernah kami buat
Justru kian hari semakin berat
Bagaimana caranya
Memikul janji semua orang sendirian? :)
Mencoba melupakan segala hal
Segala kehilangan kami
Dan segala janji kami
Rangkulan itu memang semakin renggang
Ingatan itu memang semakin kabur
Namun janji yang pernah kami buat
Justru kian hari semakin berat
Bagaimana caranya
Memikul janji semua orang sendirian? :)
Kamu tidak akan pernah tau apa yang dipikirkannya. Dia pun tidak akan bercerita apa-apa padamu. Semua hal tampak baik-baik saja. Dia berada dibalik kebahagiaan semua orang.
Dia akan memastikan bahwa tidak ada satupun yang tahu siapa dirinya dan bagaimana masa lalunya. Dia memastikan semua orang tersenyum bahagia. Dia hanya tidak ingin menjadi beban orang lain. Dia sempurna memainkan peran orang yang 'bahagia'.
"He is all broken inside, but no one will ever notice."
Ya, Dia tidak lebih dari seseorang yang sudah kehilangan semangat hidupnya. Dia akan menganggap semua masalah bersumber pada dirinya. Dia hancur dan tak ada seorangpun menyadarinya. Bahagianya tidak lain adalah topeng untuk menutupi sisi kelamnya.
"He lost his entire everything. He didn’t lose 30% of his everything. He didn’t even lose 70%. But he lost his whole everything".
Dia sudah banyak kehilangan. Bahkan kepercayaannya pada orang lain sudah hilang. Dalamnya sudah hancur. Dia pun tak lebih dari raga kosong yang hidup.
"Look at what it’s done to him. You can see the death in his eyes, but he keeps on going".
Lihatlah dirinya lekat-lekat. Masuklah kedalamnya. Kamu tidak akan menemukan kehidupan disana. Dia sudah putus asa sejak dari lama. Baginya, hari esok tak lebih dari sekadar penebus dosa.
"Remember that a tiny seeds will be grow in the desert if you give it a chance"
Satu-satunya kehidupan adalah kepercayaan dan perhatian yang kamu berikan kepadanya. Yakin kan dia bahwa semua orang menunggunya esok hari. Beri kesempatan ia membuka topengnya tanpa ada rasa bersalah pada orang lain
"Remember that a tiny seeds will be grow in the desert if you give it a chance"
Satu-satunya kehidupan adalah kepercayaan dan perhatian yang kamu berikan kepadanya. Yakin kan dia bahwa semua orang menunggunya esok hari. Beri kesempatan ia membuka topengnya tanpa ada rasa bersalah pada orang lain



























